Seminggu kemudian.
Pukul sebelas pagi mobil Lexus hitam
milik Nabil yang dikendarai oleh Aldarich berhenti tepat di depan toko Rainbow
Cakes. Sesuai rencana Nabil akan menjemput Bibi Farida, Aara, dan Lucy di toko
kue. Ketika Nabil sampai di toko, dia segera membantu membawa tas jinjing
berukuran sedang milik Bibi Farida dan Aara ke dalam bagasi mobil. Mereka hanya
tinggal selama tiga hari di Berlin.
“Silahkan masuk.” Nabil tersenyum
manis sambil membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tiga perempuan itu masuk
ke kursi penumpang. Setelah memastikan Bibi Farida, Aara, dan Lucy masuk ke
dalam mobil, dia segera menutup pintu dan memutari mobil untuk masuk ke kursi
mobil di bagian depan, di samping Aldarich yang bertugas mengendarai mobil.
Sepuluh menit perjalanan tidak ada
suara sedikitpun di antara mereka. Termasuk Lucy yang biasanya selalu antusias
juga tampak menikmati perjalanannya.
“Kita akan kemana? Bukankah kita
akan stasiun kereta?” Tanya Bibi Farida, memecahkan keheningan di antara mereka
berlima. Bibi Farida menyadari bahwa mobil yang mereka naiki terus bergerak ke
luar kota.
“Ah ya, seharusnya memang begitu.
Tapi, aku pikir akan lebih nyaman kalau kita menggunakan pesawat. Kalian pasti
tahu meskipun aku jarang terekspos di muka umum, tapi masih saja ada wartawan
yang mencari tahu tentang kehidupanku.” Kata Nabil dengan hati-hati. Ketiga
perempuan yang duduk di kursi penumpang itupun ber-oh ria, paham dengan maksud
Nabil.
Aara pikir ketika Nabil berkata tentang pesawat, itu adalah pesawat
komersial yang biasa dinaiki orang-orang. Tetapi ternyata dugaannya salah.
Mobil yang dikendarai oleh mereka berhenti di lapangan udara. Nabil mengajak
mereka semua turun dan melangkah mendekati sebuah pesawat pribadi berukuran
sedang. Sudah ada seorang pramugari yang menyambut mereka di pintu pesawat
sambil tersenyum ramah.
“Wow. Apakah ini pesawat pribadi milikmu, Nabil?” Tanya Lucy tanpa
bisa menahan nada kagum dalam suaranya.
“Yeah, tapi aku
sangat jarang menggunakannya. Karena kalian adalah tamu istimewaku maka aku akan
membuat kalian merasa nyaman di sepanjang perjalanan.” Ujar Nabil sambil
terkekeh.
Aara mengernyitkan dahinya saat mendengar nada akrab antara Lucy dan
Nabil. Sejak kapan Lucy hanya memanggil Nabil dengan namanya saja?
“Calon suamimu
sangat kaya. Kau akan hidup sejahtera bersama dengannya. Astaga. Aku tidak
percaya ini. Sahabatku akan menjadi istri dan menantu dari keluarga terkaya di
dunia.” Bisik Lucy ketika mereka sudah duduk di bangku masing-masing dan
menggunakan seat-belt yang tersedia.
Aara mencubit pelan lengan Lucy, “Belum. Orang tuaku bahkan belum
bertemu dengannya.”
“Terserah kau saja.” Balas Lucy dengan nada bosan. Sahabatnya itu
kemudian mulai sibuk melihat dan mengagumi isi pesawat pribadi yang mewah itu.
Pesawat itu bisa menampung hingga enam orang.
Untuk sedetik Aara bergidik memikirkan jenis orang seperti apa
Nabil ini. Rasanya entah kenapa agak mengerikan ketika memikirkan kekayaan besar
yang dimiliki oleh laki-laki itu.
Tidak berapa lama kemudian terdengar pengumuman dari pilot bahwa
pesawat akan segera take-off. Mereka akan menempuh perjalanan ke Berlin
selama satu jam. Aara melirik ke luar jendela pesawat dan melihat butiran-butiran
salju yang berterbangan jatuh di udara. Tanpa sadar dia memeluk dirinya sendiri
karena rasa dingin AC di dalam pesawat. Padahal dia sudah menutup AC nya tapi
rasa dingin masih menembus jaketnya. Aara memutar kepalanya dan mendapati Lucy
yang duduk bersebelahan dengannya ternyata sudah memejamkan matanya, tertidur
entah sejak kapan. Sementara Bibi Farida yang duduk berseberangan dengan mereka
juga sudah tidur dengan tenang. Aldarich, asisten setia Nabil sedang sibuk
dengan laptopnya di kursi bagian belakang. Dan Nabil…Aara mendapati laki-laki
yang duduk di kursi depan itu sedang menoleh ke belakang. Laki-laki itu
tersenyum kecil pada Aara dan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara.
“Are you okay?”
Kedua pipi Aara terasa memanas. Dia mengangguk tapi sepertinya
Nabil tidak melihat gerakan kepalanya karena sekarang laki-laki itu tampak
memanggil pramugari yang melayani mereka. Nabil tampak mengatakan sesuatu yang
dibalas anggukan patuh oleh pramugari itu. Sedetik kemudian pramugari itu
bergerak mengambil sesuatu dari bagasi kabin penyimpanan dan berjalan ke arah
Aara dengan membawa sebuah selimut. Pramugari itu tersenyum saat Aara
menatapnya dengan pandangan bingung. Tapi kemudian si pramugari tersebut
bergerak dan menyelimuti Aara.
“Selamat beristirahat, Nona. Panggil saya jika Anda memerlukan
sesuatu.” Bisik pramugari tersebut, tidak ingin mengganggu Lucy yang sedang
tertidur di sampingnya. Aara tersenyum dengan tatapan berterima kasih. Si
pramugari kemudian berlalu meninggalkan Aara. Sementara Aara…jantungnya
berdegub sangat kencang. Ternyata tanpa dia sadari Nabil memperhatikan Aara
yang sejak tadi merasa kedinginan. Perhatian kecil itu sungguh membuat hati
Aara menghangat. Pelan-pelan dia melirik ke arah Nabil dan mendapati laki-laki
itu tersenyum padanya,
“Terima kasih.” Aara menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Sama
seperti yang dilakukan oleh Nabil sebelumnya.
Nabil masih tersenyum dan dia
menggerakkan jarinya membentuk huruf ‘ok’ kemudian mengalihkan perhatiannya
dari Aara, tampak mencoba untuk beristirahat juga.
Aara menghembuskan napasnya dengan
pelan.
Nabil sangat berbahaya bagi
kesehatan jantungnya.
Pesawat pribadi milik Nabil itu landing
dengan selamat dan aman di lapangan udara Berlin. Ketika rombongan Nabil turun
dari pesawat, sudah ada tiga orang pengawal bertubuh tegap berpakaian serba
hitam menyambut mereka di dekat tangga pesawat.
“Jangan khawatir. Mereka adalah
pengawal suruhan ayahku.” Ujar Nabil sambil tersenyum menenangkan saat Bibi
Farida menatapnya dengan pandangan khawatir.
“Hei, ini gila. Sudah seperti di
film-film saja. Tidak bisa dipungkiri, orang kaya memang berbeda.” Bisik Lucy
pada Aara sambil menuruni tangga pesawat. Aara terkekeh pelan. Lucy memang
benar, seumur hidup mana pernah dia bertemu dengan bodyguard yang asli. Bodyguard
hanya ada dalam buku dan film yang dia tonton.
“Selamat datang, Tuan Nabil. Tuan
dan nyonya besar sudah menunggu Anda di rumah.” Sapa salah satu dari pengawal
itu pada Nabil dengan sopan. Nabil menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
kecil. Kedua pengawal tersebut segera membukakan pintu untuk Nabil dan tiga
orang perempuan berbeda usia tersebut. Pengawal yang lain segera bergerak ke
kursi mengemudi dan mulai menghidupkan mesin mobil. Aldarich menaiki mobil yang
lain bersama para bodyguard tersebut.
“Kau bilang kau akan pulang ke rumah
orang tuamu.” Bisik Aara pada Lucy yang duduk di sampingnya.
“Kau gila? Mana mungkin aku akan
melewatkan kesempatan untuk datang ke rumah keluarga besar Pasha? Siapa tahu
aku nanti akan bertemu dengan Pangeran Ikram.” Kata Lucy dengan nada suara
memuja. Aara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar balasan Lucy
barusan. Mobil yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan bandara.
“Bibi, apakah bibi baik-baik saja?”
Nabil menolehkan kepalanya kea rah kursi belakang. Sedari tadi Bibi Farida
hanya diam saja.
Bibi Farida tersenyum lembut, “Tentu,
aku baik-baik saja, Nak. Hanya saja ini kali pertamaku lagi mengunjungi Berlin
sejak kematian suamiku. Ini cukup mengingatkanku padanya. Sewaktu suamiku masih
hidup kami sesekali menghabiskan waktu liburan di Berlin.”
Suasana mobil menjadi sangat hening
saat mendengar perkataan Bibi Farida.
“Kalau begitu, setelah perayaan
berakhir aku akan mengajak Bibi berkeliling ke tempat-tempat yang ingin Bibi
kunjungi di Berlin.” Tawar Nabil sambil tersenyum lebar. Sepertinya Nabil
memang diciptakan untuk selalu tersenyum dan menebar kebahagiaan untuk
orang-orang di sekelilingnya.
Mendengar perkataan Nabil barusan
Bibi Farida tersenyum berterima kasih.
Lima belas menit kemudian mobil yang
mereka tumpangi memasuki area mansion yang sangat besar. Mansion
tersebut memiliki halaman yang sangat luas yang ditanami dengan berbagai macam
bunga-bunga yang indah. Selain itu, mansion itu juga dicat dengan
perpaduan warna putih gading dan emas. Sangat mewah dan besar tapi terkesan
tidak menakutkan sama sekali.
“Anakku. Selamat datang.” Katanya
setelah menyadari bahwa Nabil berdiri di hadapannya sambil menyeringai.
Laki-laki itu membungkuk saat ibunya meraihnya ke dalam pelukannya. Pelukan itu
terurai saat ibu Nabil menyadari bahwa Nabil tidak datang sendirian.
“Ibu, ini Bibi Farida, pemilik toko
kue tersebut. Jihan pasti sudah bercerita. Ini Lucy, sahabat Aara.” Nabil
memperkenalkan rombongannya pada ibunya yang dibalas ibunya dengan memberikan
pelukan pada Bibi Farida dan Lucy sambil memperkenalkan dirinya, “dan ini…”
ucapan Nabil terputus ketika ibunya mendahuluinya, “dan ini pasti Aara. Iya
kan?” Tanpa aba-aba Ayza, ibu Nabil memeluk Aara dengan erat. “Ya Tuhan, kau
cantik sekali, persis seperti yang aku bayangkan.” Katanya dengan kedua mata
yang berbinar-binar.
Aara tersenyum ramah sambil balas
memeluk Ayza.
“Ibu.” Tegur Nabil pelan, merasa
tidak enak dengan perlakuan ibunya yang berlebihan pada Aara. Dia menatap Aara
dengan pandangan meminta maaf.
“Tidak apa-apa, Nabil. Ayo masuk.
Kalian semua pasti kelelahan. Jane…Jane. Kemari, antar tamu-tamuku ke kamar
mereka. Farida, aku akan mengantarmu ke kamarmu. Ya ampun, kau seumuran dengan
adikku. Kau boleh memanggilku kakak. Anakku bilang kau membuat kue-kue yang
lezat. Kau harus mengajarkanku beberapa resep.” Ayza memanggil seseorang dan
tidak lama kemudian muncul seorang perempuan muda berpakaian maid. Dia
kemudian menggandeng lengan Bibi Farida dengan akrab. Maid yang bernama
Jane itu mengangguk patuh pada perintah majikannya dan menuntun Lucy dan Aara
menaiki sebuah tangga sementara Nabil sudah menghilang entah kemana.
“Calon mertuamu sepertinya orang
yang menyenangkan.”
Aara hanya mengangkat kedua bahunya
sebagai balasan.
Aara dan Lucy menghabiskan satu jam
untuk beristirahat di kamar mereka. Jarum jam menunjukkan pukul empat sore
ketika mereka berdua memutuskan turun ke lantai bawah. Di ruang tengah tampak
beberapa maid dan beberapa bodyguard tengah membantu mendekorasi
ruangan tersebut untuk perayaan besok. Bibi Farida tampak asyik bercengkrama
bersama Ayza, ibu Nabil. Suasana di rumah tersebut terasa sangat ramai.
“Hei, kau tahu, ini kali pertamaku
menghadiri perayaan tradisi seperti ini. Aku memang sudah mengetahui tentang
latar belakang Keluarga Pasha. Rasanya keren sekali bisa masuk ke dalam kehidupan
mereka dan melihat bagaimana keluarga mereka. Aara, aku sangat beruntung
karenamu dan aku berani bertaruh bahwa siapa saja akan iri dengan
keberuntunganku ini.” Lucy terkekeh dengan penuh rasa bangga.
“Yah, sudah menjadi takdir kau bisa
bertemu langsung dengan Pangeran Ikram-mu itu dan ibunya.” Aara menyeringai
saat mengatakan itu.
“Andai saja aku bisa menikah
dengannya. Tapi kau tahu kan…” ucapan Lucy menggantung. Aara hanya bisa menepuk
pelan pundak sahabatnya itu. Tentu saja dia tahu maksud perkataan Lucy.
Percakapan tentang agama sangat-sangat sensitif untuk dibicarakan. Terlebih
Aara tahu bahwa Lucy memang sudah sangat lama mengidolakan adik Nabil tersebut.
“Kak Aara.” Sebuah suara menyapa
telinga Aara. Dia memutar kepalanya untuk melihat siapa yang barusan
menyapanya, dan ternyata itu adalah Jihan.
Jihan melangkah mendekat dan memeluk
Aara dengan hangat. “Senang melihatmu di sini, Kak. Perayaan tahun ini pasti
akan berbeda karena kehadiranmu di sini.”
Aara hanya tersenyum lebar. Dia
kemudian memperkenalkan Lucy pada Jihan. Dalam sekejap Lucy pun menjadi akrab
dengan Jihan.
“Keluarga Pasha benar-benar
menyenangkan. Mereka sangat ramah dan rendah hati.” Bisik Lucy untuk kesekian
kalinya ketika Jihan sudah berpamitan untuk ke kamarnya.
“Baiklah, baiklah. Aku setuju
denganmu. Sekarang ayo bergerak dan membantu mereka. Kita tidak bisa diam saja
di sini.” Ujar Aara sambil melangkah ke ruang tengah disusul oleh Lucy.
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar