Minggu, 01 Mei 2022

Fünfzehn (15): Rumah Keluarga Pasha



Seminggu kemudian.

            Pukul sebelas pagi mobil Lexus hitam milik Nabil yang dikendarai oleh Aldarich berhenti tepat di depan toko Rainbow Cakes. Sesuai rencana Nabil akan menjemput Bibi Farida, Aara, dan Lucy di toko kue. Ketika Nabil sampai di toko, dia segera membantu membawa tas jinjing berukuran sedang milik Bibi Farida dan Aara ke dalam bagasi mobil. Mereka hanya tinggal selama tiga hari di Berlin.

            “Silahkan masuk.” Nabil tersenyum manis sambil membukakan pintu mobil dan mempersilahkan tiga perempuan itu masuk ke kursi penumpang. Setelah memastikan Bibi Farida, Aara, dan Lucy masuk ke dalam mobil, dia segera menutup pintu dan memutari mobil untuk masuk ke kursi mobil di bagian depan, di samping Aldarich yang bertugas mengendarai mobil.

            Sepuluh menit perjalanan tidak ada suara sedikitpun di antara mereka. Termasuk Lucy yang biasanya selalu antusias juga tampak menikmati perjalanannya.

            “Kita akan kemana? Bukankah kita akan stasiun kereta?” Tanya Bibi Farida, memecahkan keheningan di antara mereka berlima. Bibi Farida menyadari bahwa mobil yang mereka naiki terus bergerak ke luar kota.

            “Ah ya, seharusnya memang begitu. Tapi, aku pikir akan lebih nyaman kalau kita menggunakan pesawat. Kalian pasti tahu meskipun aku jarang terekspos di muka umum, tapi masih saja ada wartawan yang mencari tahu tentang kehidupanku.” Kata Nabil dengan hati-hati. Ketiga perempuan yang duduk di kursi penumpang itupun ber-oh ria, paham dengan maksud Nabil.

Aara pikir ketika Nabil berkata tentang pesawat, itu adalah pesawat komersial yang biasa dinaiki orang-orang. Tetapi ternyata dugaannya salah. Mobil yang dikendarai oleh mereka berhenti di lapangan udara. Nabil mengajak mereka semua turun dan melangkah mendekati sebuah pesawat pribadi berukuran sedang. Sudah ada seorang pramugari yang menyambut mereka di pintu pesawat sambil tersenyum ramah.

“Wow. Apakah ini pesawat pribadi milikmu, Nabil?” Tanya Lucy tanpa bisa menahan nada kagum dalam suaranya.

 “Yeah, tapi aku sangat jarang menggunakannya. Karena kalian adalah tamu istimewaku maka aku akan membuat kalian merasa nyaman di sepanjang perjalanan.” Ujar Nabil sambil terkekeh.

Aara mengernyitkan dahinya saat mendengar nada akrab antara Lucy dan Nabil. Sejak kapan Lucy hanya memanggil Nabil dengan namanya saja?

Calon suamimu sangat kaya. Kau akan hidup sejahtera bersama dengannya. Astaga. Aku tidak percaya ini. Sahabatku akan menjadi istri dan menantu dari keluarga terkaya di dunia.” Bisik Lucy ketika mereka sudah duduk di bangku masing-masing dan menggunakan seat-belt yang tersedia.

Aara mencubit pelan lengan Lucy, “Belum. Orang tuaku bahkan belum bertemu dengannya.”

“Terserah kau saja.” Balas Lucy dengan nada bosan. Sahabatnya itu kemudian mulai sibuk melihat dan mengagumi isi pesawat pribadi yang mewah itu. Pesawat itu bisa menampung hingga enam orang.

Untuk sedetik Aara bergidik memikirkan jenis orang seperti apa Nabil ini. Rasanya entah kenapa agak mengerikan ketika memikirkan kekayaan besar yang dimiliki oleh laki-laki itu.

Tidak berapa lama kemudian terdengar pengumuman dari pilot bahwa pesawat akan segera take-off. Mereka akan menempuh perjalanan ke Berlin selama satu jam. Aara melirik ke luar jendela pesawat dan melihat butiran-butiran salju yang berterbangan jatuh di udara. Tanpa sadar dia memeluk dirinya sendiri karena rasa dingin AC di dalam pesawat. Padahal dia sudah menutup AC nya tapi rasa dingin masih menembus jaketnya. Aara memutar kepalanya dan mendapati Lucy yang duduk bersebelahan dengannya ternyata sudah memejamkan matanya, tertidur entah sejak kapan. Sementara Bibi Farida yang duduk berseberangan dengan mereka juga sudah tidur dengan tenang. Aldarich, asisten setia Nabil sedang sibuk dengan laptopnya di kursi bagian belakang. Dan Nabil…Aara mendapati laki-laki yang duduk di kursi depan itu sedang menoleh ke belakang. Laki-laki itu tersenyum kecil pada Aara dan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara.

 

Are you okay?

Kedua pipi Aara terasa memanas. Dia mengangguk tapi sepertinya Nabil tidak melihat gerakan kepalanya karena sekarang laki-laki itu tampak memanggil pramugari yang melayani mereka. Nabil tampak mengatakan sesuatu yang dibalas anggukan patuh oleh pramugari itu. Sedetik kemudian pramugari itu bergerak mengambil sesuatu dari bagasi kabin penyimpanan dan berjalan ke arah Aara dengan membawa sebuah selimut. Pramugari itu tersenyum saat Aara menatapnya dengan pandangan bingung. Tapi kemudian si pramugari tersebut bergerak dan menyelimuti Aara.

“Selamat beristirahat, Nona. Panggil saya jika Anda memerlukan sesuatu.” Bisik pramugari tersebut, tidak ingin mengganggu Lucy yang sedang tertidur di sampingnya. Aara tersenyum dengan tatapan berterima kasih. Si pramugari kemudian berlalu meninggalkan Aara. Sementara Aara…jantungnya berdegub sangat kencang. Ternyata tanpa dia sadari Nabil memperhatikan Aara yang sejak tadi merasa kedinginan. Perhatian kecil itu sungguh membuat hati Aara menghangat. Pelan-pelan dia melirik ke arah Nabil dan mendapati laki-laki itu tersenyum padanya,

“Terima kasih.” Aara menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Sama seperti yang dilakukan oleh Nabil sebelumnya.

            Nabil masih tersenyum dan dia menggerakkan jarinya membentuk huruf ‘ok’ kemudian mengalihkan perhatiannya dari Aara, tampak mencoba untuk beristirahat juga.

            Aara menghembuskan napasnya dengan pelan.

 Nabil sangat berbahaya bagi kesehatan jantungnya.

            Pesawat pribadi milik Nabil itu landing dengan selamat dan aman di lapangan udara Berlin. Ketika rombongan Nabil turun dari pesawat, sudah ada tiga orang pengawal bertubuh tegap berpakaian serba hitam menyambut mereka di dekat tangga pesawat.

            “Jangan khawatir. Mereka adalah pengawal suruhan ayahku.” Ujar Nabil sambil tersenyum menenangkan saat Bibi Farida menatapnya dengan pandangan khawatir.

            “Hei, ini gila. Sudah seperti di film-film saja. Tidak bisa dipungkiri, orang kaya memang berbeda.” Bisik Lucy pada Aara sambil menuruni tangga pesawat. Aara terkekeh pelan. Lucy memang benar, seumur hidup mana pernah dia bertemu dengan bodyguard yang asli. Bodyguard hanya ada dalam buku dan film yang dia tonton.

            “Selamat datang, Tuan Nabil. Tuan dan nyonya besar sudah menunggu Anda di rumah.” Sapa salah satu dari pengawal itu pada Nabil dengan sopan. Nabil menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Kedua pengawal tersebut segera membukakan pintu untuk Nabil dan tiga orang perempuan berbeda usia tersebut. Pengawal yang lain segera bergerak ke kursi mengemudi dan mulai menghidupkan mesin mobil. Aldarich menaiki mobil yang lain bersama para bodyguard tersebut.

            “Kau bilang kau akan pulang ke rumah orang tuamu.” Bisik Aara pada Lucy yang duduk di sampingnya.

            “Kau gila? Mana mungkin aku akan melewatkan kesempatan untuk datang ke rumah keluarga besar Pasha? Siapa tahu aku nanti akan bertemu dengan Pangeran Ikram.” Kata Lucy dengan nada suara memuja. Aara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar balasan Lucy barusan. Mobil yang mereka tumpangi mulai melaju meninggalkan bandara.

            “Bibi, apakah bibi baik-baik saja?” Nabil menolehkan kepalanya kea rah kursi belakang. Sedari tadi Bibi Farida hanya diam saja.

            Bibi Farida tersenyum lembut, “Tentu, aku baik-baik saja, Nak. Hanya saja ini kali pertamaku lagi mengunjungi Berlin sejak kematian suamiku. Ini cukup mengingatkanku padanya. Sewaktu suamiku masih hidup kami sesekali menghabiskan waktu liburan di Berlin.”

            Suasana mobil menjadi sangat hening saat mendengar perkataan Bibi Farida.

            “Kalau begitu, setelah perayaan berakhir aku akan mengajak Bibi berkeliling ke tempat-tempat yang ingin Bibi kunjungi di Berlin.” Tawar Nabil sambil tersenyum lebar. Sepertinya Nabil memang diciptakan untuk selalu tersenyum dan menebar kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingnya.

            Mendengar perkataan Nabil barusan Bibi Farida tersenyum berterima kasih.

            Lima belas menit kemudian mobil yang mereka tumpangi memasuki area mansion yang sangat besar. Mansion tersebut memiliki halaman yang sangat luas yang ditanami dengan berbagai macam bunga-bunga yang indah. Selain itu, mansion itu juga dicat dengan perpaduan warna putih gading dan emas. Sangat mewah dan besar tapi terkesan tidak menakutkan sama sekali.



            Nabil segera turun dari mobil dan membuyikan bel yang ada di samping pintu. Sementara tiga perempuan tersebut berdiri di belakang punggungnya dengan kaku. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncul seorang perempuan berusia sekita lima puluhan, menatap ke arah mereka untuk beberapa detik. Raut wajahnya yang lembut benar-benar mengingatkan Aara pada ibunya. Seketika perasaan rindu pada ibunya membuncah di dalam dadanya.

            “Anakku. Selamat datang.” Katanya setelah menyadari bahwa Nabil berdiri di hadapannya sambil menyeringai. Laki-laki itu membungkuk saat ibunya meraihnya ke dalam pelukannya. Pelukan itu terurai saat ibu Nabil menyadari bahwa Nabil tidak datang sendirian.

            “Ibu, ini Bibi Farida, pemilik toko kue tersebut. Jihan pasti sudah bercerita. Ini Lucy, sahabat Aara.” Nabil memperkenalkan rombongannya pada ibunya yang dibalas ibunya dengan memberikan pelukan pada Bibi Farida dan Lucy sambil memperkenalkan dirinya, “dan ini…” ucapan Nabil terputus ketika ibunya mendahuluinya, “dan ini pasti Aara. Iya kan?” Tanpa aba-aba Ayza, ibu Nabil memeluk Aara dengan erat. “Ya Tuhan, kau cantik sekali, persis seperti yang aku bayangkan.” Katanya dengan kedua mata yang berbinar-binar.

            Aara tersenyum ramah sambil balas memeluk Ayza.

            “Ibu.” Tegur Nabil pelan, merasa tidak enak dengan perlakuan ibunya yang berlebihan pada Aara. Dia menatap Aara dengan pandangan meminta maaf.

            “Tidak apa-apa, Nabil. Ayo masuk. Kalian semua pasti kelelahan. Jane…Jane. Kemari, antar tamu-tamuku ke kamar mereka. Farida, aku akan mengantarmu ke kamarmu. Ya ampun, kau seumuran dengan adikku. Kau boleh memanggilku kakak. Anakku bilang kau membuat kue-kue yang lezat. Kau harus mengajarkanku beberapa resep.” Ayza memanggil seseorang dan tidak lama kemudian muncul seorang perempuan muda berpakaian maid. Dia kemudian menggandeng lengan Bibi Farida dengan akrab. Maid yang bernama Jane itu mengangguk patuh pada perintah majikannya dan menuntun Lucy dan Aara menaiki sebuah tangga sementara Nabil sudah menghilang entah kemana.

            “Calon mertuamu sepertinya orang yang menyenangkan.”

            Aara hanya mengangkat kedua bahunya sebagai balasan.

            Aara dan Lucy menghabiskan satu jam untuk beristirahat di kamar mereka. Jarum jam menunjukkan pukul empat sore ketika mereka berdua memutuskan turun ke lantai bawah. Di ruang tengah tampak beberapa maid dan beberapa bodyguard tengah membantu mendekorasi ruangan tersebut untuk perayaan besok. Bibi Farida tampak asyik bercengkrama bersama Ayza, ibu Nabil. Suasana di rumah tersebut terasa sangat ramai.

            “Hei, kau tahu, ini kali pertamaku menghadiri perayaan tradisi seperti ini. Aku memang sudah mengetahui tentang latar belakang Keluarga Pasha. Rasanya keren sekali bisa masuk ke dalam kehidupan mereka dan melihat bagaimana keluarga mereka. Aara, aku sangat beruntung karenamu dan aku berani bertaruh bahwa siapa saja akan iri dengan keberuntunganku ini.” Lucy terkekeh dengan penuh rasa bangga.

            “Yah, sudah menjadi takdir kau bisa bertemu langsung dengan Pangeran Ikram-mu itu dan ibunya.” Aara menyeringai saat mengatakan itu.

            “Andai saja aku bisa menikah dengannya. Tapi kau tahu kan…” ucapan Lucy menggantung. Aara hanya bisa menepuk pelan pundak sahabatnya itu. Tentu saja dia tahu maksud perkataan Lucy. Percakapan tentang agama sangat-sangat sensitif untuk dibicarakan. Terlebih Aara tahu bahwa Lucy memang sudah sangat lama mengidolakan adik Nabil tersebut.

            “Kak Aara.” Sebuah suara menyapa telinga Aara. Dia memutar kepalanya untuk melihat siapa yang barusan menyapanya, dan ternyata itu adalah Jihan.

            Jihan melangkah mendekat dan memeluk Aara dengan hangat. “Senang melihatmu di sini, Kak. Perayaan tahun ini pasti akan berbeda karena kehadiranmu di sini.”

            Aara hanya tersenyum lebar. Dia kemudian memperkenalkan Lucy pada Jihan. Dalam sekejap Lucy pun menjadi akrab dengan Jihan.

            “Keluarga Pasha benar-benar menyenangkan. Mereka sangat ramah dan rendah hati.” Bisik Lucy untuk kesekian kalinya ketika Jihan sudah berpamitan untuk ke kamarnya.

            “Baiklah, baiklah. Aku setuju denganmu. Sekarang ayo bergerak dan membantu mereka. Kita tidak bisa diam saja di sini.” Ujar Aara sambil melangkah ke ruang tengah disusul oleh Lucy.


Bersambung